With You
“Kenapa harus lari sih olahraganya hari ini ?? Nyebelin!”, rutukku pada kedua temanku, Isty dan Cahya. Aku kesal karena hari ini olahraganya harus lari. Padahal aku nggak bisa lari cepat. Untung ada mereka yang setia menemaniku lari di belakang. Padahal mereka bias cepat sampai finish kalau mereka mau.
“Mending kalian duluan aja. Lari kali ini kan dinilai. Gue nggak mau kalian remidi gara-gara gue”, usulku.
“Nggak bisa. Kita nggak mau ninggalin loe sendirian” tolak Cahya. Aku terharu dengan ucapannya barusan, tapi aku juga nggak boleh menghambat mereka.
Kemudian aku berusaha lari lebih cepat agar tidak terlalu menghambat. Tapi baru juga aku ambil ancang-ancang untuk menambah kecepatanku, aku malah jatuh tersandung. Kakiku terkilir. Sakit banggetz!!
“loe nggak apa-apa?” Tanya Isty khawatir.
Aku menggeleng. Akhirnya aku di antar kembali oleh pak guru ke sekolah.
Sampai di sekolah, aku duduk-duduk di kasur UKS sambil menunggu Pak Kun, dokter UKS mengobatiku. Tapi yang datang malah Danar.
“hei, kaki loe kenapa? Tanyanya begitu melihat kaki kiriku memar.
“oh ini, gue… tadi kesandung trus keseleo deh”
Danar mengangguk lalu menyentuh kakiku yang memar. “mau ngapain?” tanyaku polos.
“ya ngobatin loe lah”
Refleks aku langsung menarik kakiku dari Danar. “kenapa?” tanyanya.
“ng… mending kita nunggu Pak Kun aja deh”
“nggak usah. Sini, biar gue aja yang obtain. Gue bisa kok. Gini-gini kan gue anggota PMR. Nggak usah setakut itu kali.”
Akupun mencoba mempercayakan kakiku padanya. Meskipun masih sangat khawatir. Soalnya dulu waktu SMP, dia itu slebor banget. Ntar bukannya sembuh, malah jadi tambah parah.
Saat Danar memeriksa pergelangan kakiku, aku menutup mata sambil berdoa semoga kakiku nggak tambah parah waktu di tangani Danar. Tapi kemudian kudengar desahan nafas Danar. “Loh? Udah selesai?”tanyaku.
“belom”
“trus? Kok berhenti?”
Dia mendekat lalu mengacak rambutku. “Gue liat loe takut banget kalo gue yang tanganin. Gue panggilin Pak Kun aja dulu. Sabar ya”
Diapun keluar. Aku hanya bisa menatap punggungnya dengan perasaan bersalah. Mungkin tadi aku sudah keterlaluan dan menyinggung perasaannya.
Tidak lama kemudian Pak Kun datang mengobatiku. Dia datang tanpa Danar. Waktu kutanya Danar kemana, katanya Danar balik ke kelas.
Setelah kakiku selesai di perban, aku balik ke kelas dengan jalan agak pincang. Sampai di kelas, ternyata Cahya dan Isty sudah kembali dari olahraga. Kemudian aku menceritakan pada mereka tentang kejadian tadi. Mereka ngakak mendengar ceritaku. Soalnya, bukannya seneng bisa di obatin sama cowok yang sudah kusuka sejak SMP itu, aku malah ketakutan.
“Tapi, loe tadi keterlaluan juga sih. Mestinya walaupun loe takut, jangan terlalu ditunjukin gitu dong. Ya dia tersinggunglah” ucap Cahya.
“Mending ntar pas istirahat loe cari dia deh. Terus minta maaf” usul Isty.
Kemudian saat jam istirahat tiba, aku datang menghampiri Danar ke kelasnya. “hei, Nar, gue mau….”
“eh, Fi. Umh, ke kantin yuk” tanpa babibu, dia langsung menggandengku menuju ke kantin.
Setelah pesanan kami tiba, aku pun mulai angkat bicara. “Umh, Nar. Sorry ya soal tadi”.
“oh, tadi. Iya nggak apa-apa kok. Loe pasti inget gue waktu SMP yang slebor banget kan? Jadi loe ketakutan gitu”
Aku cuma bias meringis. “Oke. Tapi loe harus kabulin lima permintaan gue”
“Ha? Banyak banget. Orang tuh biasanya minta satu ato paling banyak ya cuma tiga” protesku lalu memasang muka manyun. Danar tertawa lalu mencubit kedua pipiku. “AUW!! Sakit tau!”
“Haha! Abis loe lucu banget kalau lagi manyun kayak tadi. Gue jadi gemes. Umh, oke deh, gue minta satu permintaan aja. Deal?”
“Deal”
Sejak saat itu aku jadi dekat dengan Danar. Soalnya waktu itu dia tidak langsung mengatakan permintaannya. Aku senang bias dekat dengannya tapi aku nggak enak pada Lia. Takut dia salah paham dan mengira aku sedang mencoba merebut Danar darinya.
Satu minggu kemudian, yang kutakutkan terjadi. Saat jam pulang sekolah, dan teman-temanku sudah pada pulang, Lia datang melabrakku. Katanya kemarin dia putus sama Danar. Dan dia menyalahkanku.
Dia menjambak-jambak rambutku. Untung Danar datang dan menjauhkan Lia dariku. “Lia! Apa-apaan sih loe?!” bentak Danar.
“apa-apaan loe bilang? Gara-gara cewek ini kan loe mutusin gue?!”
“Lia!” bentak Danar lagi.
“Pokoknya loe harus jauhin Danar!!” bentak Lia lagi padaku. Kemudian dia langsung pergi meninggalkanku. Danar juga pergi untuk mengejarnya.
Keesokan harinya. Kuputuskan untuk menjauhi Danar. Aku tidak mau terjadi salah paham lagi antara aku dan Lia.
Saat pulang sekolah, Lia kembali menghampiriku. Dia langsung menarikku dengan paksa menuju lapangan basket.
Sampai di tengah lapangan, tiba-tiba Isty, Cahya dan Danar muncul dengan menyemprotkan air padaku menggunakan selang air. “Happy Birthday!!” ucap mereka termasuk Lia.
“Sorry ya soal yang kemaren” ucap Lia. Aku diam karena masih bingung. “ini semua rencananya dua temen loe ini” lanjutnya. Aku memandangi kedua temanku dan kembali memandang Lia. “jadi, loe sama danar nggak beneran putus kan?” tanyaku hati-hati.
“kita beneran putus kok” jawab Danar.
“Tapi gue yang mutusin dia. Karena sejak awal, dia udah bilang kalo yang dia suka itu loe. Sampai gue jadian sama dia, dia tetep sukanya sama loe. Makanya gue nyerah dan mutusin dia” tukas Lia.
“Danar? Suka sama gue?” tanyaku pada Lia kemudian memandang Danar. Danar hanya garuk-garuk kepala. “Hehe, iya. Selama ini gue Cuma belom berani nembak loe aja. Makanya, sekarang loe, … mau nggak jadi cewek gue?” Tanya Danar.
Seakan mengerti hatiku, kepalaku bergerak sendiri untuk mengangguk. “Cie!!!” sorak Isty, Cahya dan Lia. Kemudian mereka kembali melakukan aksi semprot menyemprot. Dan kali ini yang di semprot bukan hanya aku, tapi juga Danar. Syukurlah, hari ini bukanlah hari ulang tahun terburukku. Karena hari ini, aku malah mendapatkan kejutan yang menyenangkan dari teman-temanku. Dan tentunya, akhirnya aku bisa jadian dengan Danar, cowok yang sudah kusukai sejak empat tahun terakhir ini.
*********************
THE END *********************